Cari Blog Ini

Minggu, 13 Januari 2013

Tips Memilih Ban Trail untuk Offroad












   Bagi penggila berat kegiatan offroad motor trail, fungsi ban sangatlah vital. Meskipun rider-nya handal dan motor super mantap, namun kalau tidak ditunjang dengan ban yang pas, tentunya juga akan menjadi siksaan tersendiri bagi pengendara. Apalagi kalau medan yang dilalui itu licin akibat diguyur hujan, maka yang terjadi adalah “gudubrak, gedubruk” alias sering mencium segarnya tanah!
Ban di motor trail itu ibarat sepatu bagi pendaki gunung. Sepatu yang pas akan membuat pendaki menjadi merasa nyaman, menghemat energi karena tidak sering selip atau terpeleset. Apalagi jika medan yang dilalui itu memang membutuhkan cengkeraman “sepatu” yang yahud. Jadi “sepatu” di motor trail itu sangat vital peranannya.
Di pasaran ada banyak beredar berbagai macam merek ban trail. Tipe yang ditawarkan oleh penjual juga beragam. Penggemar trail apalagi pemula, sering dibuat puyeng untuk menentukan pilihan ban mana yang cocok untuk dibeli. Yang bikin lebih puyeng lagi, memilih ban mana yang cocok dengan isi dompet, karena harga ban trail yang berkualitas itu rata-rata diatas Rp 500.000.
Seringkali ada pemula yang sudah terlanjur membeli ban trail namun ketika dipakai di medan offroad ternyata tidak sesuai dengan harapan. Roda motor masih sering selip dan tidak mencengkeram dengan baik di tanah. Akibatnya dia harus membeli lagi ban motor yang dirasa pas. Ini artinya pemborosan.
Ketika membeli ban jangan tergoda dengan tampang ban yang terlihat “sangar”, padahal ketika dipakai di medan offroad ternyata menjadi “mellow”. Akan lebih baik jika membeli ban yang sudah punya nama besar di dunia offroad misalnya Dunlpop, Kenda, Bridgestone, Maxis, Pirelli, Metzeler, dll. Memang harga ban merk-merk ternama itu harganya relatif lebih mahal, namun kita tidak akan rugi karena puas memakainya. Daripada beli harga yang lebih murah, namun nantinya akan kecewa dan akhirnya membeli lagi ban yang lebih bagus. Kalau sudah demikian, berarti kita akan keluar uang lebih besar lagi.
Persoalan lain adalah ban tipe apa yang pas untuk kita pakai offroad? Pada dasarnya tipe ban offroad itu dikelompokan dalam 3 kelompok yaitu tipe hard, intermediate dan soft. Bagi yang punya uang banyak, mungkin tidak ada masalah menyimpan ban berbagai tipe dan tinggal memasangnya sesuai dengan medan offroad yang akan dilalui. Namun bagi yang dananya pas-pasan, tentunya akan puyeng jika harus membeli ban berbagai tipe itu. Terus tipe apa yang sebaiknya kita beli untuk offroad di semua medan?
Untuk menghemat uang, lebih baik membeli ban tipe intermediate. Tipe intermediate ini adalah tipe yang berada di tengah-tengah, antara hard dan soft. Ban tipe intermediate bisa dipakai di medan yang basah hingga keras, seperti bebatuan. Tipe intermediate juga cocok untuk dipakai di jalur tanah keras yang licin, sepertinya tanah padas yang banyak berada di gunung-gunung.
Berikut adalah beberapa ban tipe intermediate yang beredar di pasaran tanah air:
- Bridgestone tipe M403 dan M404
- Dunlop tipe Geomax MX51
- Kenda tipe Calrsbad dan Washougal
- Maxxis tipe Maxx Cross IT
- Pirelli tipe Scorpion MXMS 32 dan Scorpion XCMS
Kabar yang menggembirakan adalah produsen ban IRC Indonesia sudah memproduksi ban offroad yang berkualitas dengan harga miring. Memang hanya waktu yang akan membuktikan apakah ban tersebut berkualitas atau hanya “nomor satu” di iklan saja, maklum semua iklan itu pasti no 1. Selamat memilih ban yang pas untuk motor trail anda! (C001/Dirt Rider magazine).

Perbedaan Antara Motor Tipe Cross (SE) dan Enduro

























   


   
   Ada banyak pertanyaan bagaimana kalau motor tipe cross (di Indonesia sering disebut SE alias special engine) dipakai untuk offroad atau enduro? Sebelumnya perlu dipahami dulu perbedaan antara motor tipe cross/MX dengan enduro. Motor MX itu biasa dipakai untuk kompetisi motocross dan supercross. Motor disetting dengan akselerasi ganas dan untuk meloncat bahkan terbang melibas gundukan tanah. Karena hanya dipakai untuk kompetisi maka motor MX itu tidak dilengkapi dengan lampu, sein dan standar samping (jagrak).
Motor tipe MX terlihat simple dan ramping, tidak terlalu banyak aksesorisnya. Motor MX alias SE (padahal sebetulnya salah kaprah menyebut motor cross dengan istilah SE karena motor enduropun mesinnya sudah Special Engine, bukan mesin biasa) itu misalnya Yamaha YZF 250, KTM 250 SXF, Honda CRF 250R, Suzuki RMZ 250, Kawasaki KXF 250, Honda CR 150R, Husqvarna TC 250, dll.
Sedangkan motor enduro itu dirancang untuk di medan offfroad yang panjang. Kalau di USA dan Eropa juga dipakai untuk kompetisi enduro. Bedanya dengan tipe MX, untuk motor tipe enduro itu sudah dilengkapi dengan lampu sehingga aman kalau harus kemalaman di hutan. Selain itu motor tipe enduro juga kebanyakan dilengkapi dengan electric starter, standart samping dan suspensi yang lebih empuk dibanding tipe MX. Tenaga motor memang tidak seganas tipe MX, cenderung lebih smooth, namu justru ini yang membuat pengendara tidak cepat capek. Maklum offroad itu seringkali lebih dari 6 jam, bahkan berhari-hari, sedangkan kompetisi cross hanya beberapa jam saja.
Contoh motor tipe enduro itu adalah KTM 250/450 EXCF, Honda CRF 250X, Yamaha WRF 250, Husqvarna TE 250, Husaberg FE 450, dll. Karena penuh dengan piranti tambahan, maka motor tipe enduro itu bobotnya lebih berat dibanding motor tipe cross.
Jadi perbedaan motor tipe MX dan enduro itu adalah:
MOTOR TIPE CROSS/MX:
- Tenaga motor lebih ganas
- Suspensi lebih keras
- Tidak pakai standar samping (jagrak)
- Bobot motor lebih ringan
- Tidak bisa dipakai untuk jalanan, karena tidak ada suratnya, hanya untuk kompetisi
- Kebanyakan tidak dilengkapi dengan electric starter, hanya mengandalkan engkol kaki.
MOTOR TIPE ENDURO:
- Suspensi lebih empuk
- Tenaga motor kebanyakan lebih smooth
- Dilengkapi dengan lampu, sein, standar samping dan juga bisa untuk jalanan (bisa dilengkapi dengan surat)
- Dilengkapi dengan electric starter
Bisakah Motor Tipe Cross Dipakai Offroad?
Meskipun sudah ada motor tipe enduro yang mumpuni untuk melibas medan offroad, namun banyak juga orang yang memakai motor tipe cross untuk offroad. Di beberapa kejuaraan offroad atau enduro dunia, banyak juga top riders yang memakai motor tipe MX, sebut saja David Knight pernah berjaya dengan Kawasaki KXF 450 juga Strang dengan Suzuki RMZ 450.
Mereka memilih motor tipe cross untuk offroad karena pertimbangan bobot motor yang lebih ringan dan power motor lebih mantap. Cuma tentu saja akan lebih menguras energi, tetapi di tangan pengendara yang tepat, motor tipe cross akan menjadi monster di medan offfroad.
Di tim CHEELA juga ada beberapa orang yang memakai motor tipe cross untuk offroad. Motor tipe cross yang biasa kami pakai untuk offroad adalah KXF 250, CRF 250R dan juga KTM SXF 250. Sejauh ini tidak ada masalah memakai motor MX untuk offfroad, tentunya sebelumnya pengendaranya harus adaptasi dulu dengan karakter motornya yang memang dari pabrikannya dirancang untuk kompetisi.
Memakai motor tipe cross untuk offroad perlu ada setting ulang, antara lain suspensi depan dibuat lebih empuk dengan mengurangi volume oli dan mengganti kekentalan oli dengan yang lebih encer. Atau kalau ada dana lebih, per suspensi diganti dengan per tipe enduro. Gir belakang juga dikecilkan 2 atau 3 mata, untuk mengurangi ganasnya akselerasi bawah dan menambah top speed. Dan yang terpenting adalah setelan klep harus pas, sehingga motor mudah dihidupkan, maklum kebanyakan motor tipe cross masih mengandalkan engkolan kaki untuk menghidupkan mesin.
Oli mesin yang dipakai juga harus kualitas bagus, karena ini akan membantu memudahkan untuk menghidupkan motor di situasi udara dingin. Kekentalan oli harus diperhatikan, lebih baik menggunakan oli mesin yang encer.
Kalau tidak mau repot membawa besi penyangga motor waktu diparkir, motor tipe cross bisa ditambahkan standar samping seperti halnya motor enduro. Ada banyak produk yang menjual standar samping untuk tipe cross. Pilih bahan yang dari alloy, sehingga bobotnya akan ringan dan kuat, jangan pakai besi.
Bagaimana dengan isu over heat? Gejala mesin motor panas berlebih atau disebut over heat bisa diatasi dengan memastikan radiator tidak bocor, air radiator selalu terisi penuh dan jangan teralu sering memakai setengah kopling. Mesin motor yang terawatt dan sehat juga akan menjamin motor tidak over heat. Kalau perlu ganti radiator dengan ukuran yang lebih besar.
Pengalaman kami memakai tiga motor tipe cross yang berbeda, Honda CRF 250R paling tangguh untuk dipakai offfroad. Mesin motor tidak pernah over heat dan tenaganya lebih mudah dikendalikan. Suspensi juga mudah disetting. Namun kalu bicara soal suspensi, KTM 250 SXF boleh dibilang terdepan karena terasa smooth dan masih enak untuk melibas gundukan tanah yang tinggi. Sedangkan KXF 250 menang di akselerasi yang terkenal ganas namun liar.
Kalau ingin motor tipe cross yang sudah ada electric starter-nya, maka sekarang sudah ada pilihannya yaitu KTM 350 SXF. Ini motor yang handlingnya seperti motor 250, namun tenaganya ganas seperti 450. Tangguh, ringan dan handling-nya enak. Ini motor yang dahsyat untuk cross ataupun offroad.
Peralihan Motor Enduro dan Cross
Bagi yang malas memakai motor tipe cross untuk offroad, namun ingin merasakan motor dengan karakter yang tidak terlalu jauh berbeda dengan motor MX, maka beberapa pabrikan mengeluarkan motor tipe cross country. Motor tipe cross country boleh dibilang motor yang spek-nya mendekati tipe cross tapi rasa enduro.
Motor tipe cross country itu dilengkapi dengan standar samping, sebagian sudah pakai electric starter dan juga bisa dipasang lampu. Seperti halnya motor tipe MX, motor tipe cross country juga tidak bisa dipakai di jalanan raya.
Kelebihan motor tipe cross country adalah suspensi sedikit lebih lembut dibanding tipe cross, tapi lebih keras dibanding tipe enduro. Suspensi motor tipe cross country ini terasa lebih mantap bagi penggemar speed offroad. Akselerasi dan tenaga motor juga diatas tipe enduro. Gigi juga terasa lebih pendek dibanding tipe enduro, sehingga tenaga bawahnya juga lebih dahsyat. Namun top speed motor tipe cross country itu kebanyakan lebih rendah dibanding tipe enduro.
Motor tipe cross country kebanyakan dikeluarkan oleh pabrikan Eropa seperti KTM, Husaberg dan Husqvarna. Maklum kejuaraan cross country memang lebih banyak di Eropa dan Amerika, kalau di Asia masih terbilang jarang kalau tidak mau disebut tidak ada. Di barisan KTM untuk tipe cross itu disebut tipe XC, misalnya 200 XC, 250 XC atau 300 XC. Semuanya adalah pasukan 2 tak. Sedangkan di pabrikan Italy, Husqvarna, itu disebut TXC, contohnya TXC 250. Untuk Husaberg motor tipe cross country disebut FX.
Sekarang tergantung pilihan anda. Mau memakai motor tipe enduro, cross atau cross country. Sesuaikan dengan skill dan riding style anda.

Sabtu, 12 Januari 2013

Tips Memilih Ukuran Ban Trail yang Pas

   








   Seorang teman baru saja mengganti motor trailnya dengan ban baru, maklum ban belakangnya sudah mulai ompong sana sini digerus jalur offroad. Begitu ban baru terpasang, dia kaget sekali, “lho koq motor saya jadi lebih tinggi?” Lagi-lagi harus maklum, teman yang satu ini tingginya relatif standar Indonesia, sementara motornya yang warna orange itu standar Eropa. Jadinya ketika ban belakang diganti yang baru, kog malah kaki jadi jinjit, tidak napak ke tanah. Wah khan jadi repot tuh waktu offroad di jalur yang susah.
Tambah tingginya motor akibat pergantian ban itu disebabkan oleh ukuran ban yang kurang pas. Lho bukannya ukuran diameter bannya sama, yaitu 18? Memang ukuran diametr ban yang diganti itu sama yaitu 18, Cuma ukuran lebar dan ketinggian bannya berbeda. Ini yang membuat motor jadi sedikit lebih jangkung.
Ukuran ban trail yang beredar kebanyakan memakai ukuran mili meter, misalnya 100/90-18 atau 100/110-18. Angka 18 di belakang itu jelas menunjukan ukuran diameter roda/pelk yang memakai ukuran inci. Nah yang harus dicermati adalah angka yang di depan, karena ini menunjukan lebar dan tinggi ban.
Maka jika ban trail itu ukurannya 100/90 maka artinya lebar ban itu adalah 100 mm dan tingginya 100X(90/100) = 90 mm. Kalau ukuran bannya 100/110 maka lebar bannya 100 mm dan tingginya 100X(110/100) = 110 mm. Nah otomatis ketika bannya diganti dengan ukuran 100/110 maka ada perbedaan ketinggian sebesar 20 mm, ini yang membuat motor jadi terasa lebih jangkung.
Ban trail yang ukuran lebih lebar lebih enak untuk menapak atau mencengkeram tanah. Ini sangat baik dipakai di medan yang licin. Namun kelemahannya karena ukurannya lebih lebar maka menjadi sedikit kurang lincah dibandingkan dengan ukuran ban yang lebarnya lebih kecil.
Diameter ban yang lebih besar misalnya ukuran ban depan 21 dan belakang 18 inci itu akan lebih enak dipakai untuk melibas jalur offroad yang penuh gundukan atau cerukan tanah dibandingkan ukuran ban 19/16. Ukuran ban depan 19 dan belakang 16 ini seperti yang dipakai oleh kawasakI KLX 150. Sehingga tak heran banyak pemakai KLX 150 yang mengganti bannya dengan ukuran depan 21 dan belakang 18, dengan konsekuensi berat motor menjadi lebih bertambah. (C001)

Tips Memilih Motor Trail yang Pas






































   Penggemar motor trail di Indonesia sekarang “dimanjakan” oleh produsen dengan banyaknya pilihan motor trail yang ditawarkan. Mulai dari produk “lokal” hingga motor build up yang harganya selangit. Dibandingkan tahun 90-an, tentunya kini jauh lebih mudah bagi konsumen untuk memilih motor trail idaman. Untuk saat ini motor trail apapun tersedia di pasaran, tergantung seberapa tebal isi dompet konsumen.

Uupps... apa betul isi dompet menjadi pertimbangan utama dalam membeli motor trail? Bisa ya, bisa juga tidak. Karena membeli motor trail itu bukan sekedar pertimbangan isi dompet saja, namun pertimbangan apakah motor tersebut benar-benar “pas” dengan anda. Tulisan ini semoga bisa membantu anda yang ingin membeli motor trail. Yang jelas penulis bukanlah tim pemasaran produk tertentu, ini murni sebagai suara konsumen yang kebetulan telah mencicipi berbagai jenis motor trail mulai kelas lokal, motor cina, motor rilisan Amrik hingga motor Eropa.

Setidaknya ada 5 pertimbangan dalam membeli motor trail:
1. Isi dompet alias budget yang tersedia
2. Peruntukan motor trail tersebut
3. Skill / kemampuan
4. Ketahanan dan kenyamanan motor (kualitas)
5. Perawatan dan spare parts motor

1. Isi Dompet alias Budget

   Ketersediaan dana tentunya menjadi faktor pembatas dalam memilih motor trail yang akan dibeli. Bagi yang dompetnya tebal sih memang ada begitu banyak pilihan motor. Tapi bagi yang anggaran pas-pasan, tentunya pilihannya jadi lebih terbatas. Kalau anda belum terlalu “kebelet” (mendesak) untuk membeli motor trail idaman, maka anda bisa menunda membeli motor trail idaman tersebut sambil menabung sampai uangnya cukup untuk membeli motor itu, sehingga ketika anda membelinya anda akan puas karena sesuai dengan keinginan.

   Daripada membeli motor “murah” namun kualitas apa adanya, maka bisa jadi anda akan kecewa ketika mencoba motor tersebut di medan offroad. Motor memang tampang trail, tetapi koq performanya tidak jauh beda dengan motor kebanyakan (baca: motor bukan trail). Apalagi ketika anda menjual motor trail yang mengecewakan anda tersebut pasti harganya akan terjun bebas.

   Terlepas dari peruntukan motor trail yang akan anda pakai, untuk kantong anda yang budgetnya dibawah Rp 25 juta, maka pilihan motor trail yang tersedia di pasaran Indonesia antara lain KLX 150S, Suzuki TS 125 dan Hyosung/monstrac.

   Kalau budget anda dibawah Rp 60 juta, maka pilihannya adalah KLX 250S, Honda CRF 150F, CRF 230F (second), KTM 200 (second), Yamaha WRF 250 (second), kawasaki KXF 250 (second), dll. Pilihan akan lebih banyak jika budget anda di atas Rp 60 juta, antara lain KTM 250 EXCF, CRF 250X, Husaberg, Husqvarna TE 250, KTM 200, CRF 230F, WRF 250 dan masih banyak lagi lainnya.

2. Peruntukan Motor Trail

   Sebelum memutuskan untuk membeli, anda harus tahu motor trail tersebut akan lebih banyak digunakan untuk apa? Maksudnya apakah sekedar untuk touring yang artinya lebih banyak jalan aspal, adventure (aspal dan tanah), kompetisi atau offroad di medan extrim (tight offroad). Karena setiap motor oleh pabrikan telah dirancang untuk tujuan tertentu, meskipun juga ada motor yang multi purpose alias bisa digunakan di segala medan.

   Kalau kebanyakan motor trail anda akan digunakan untuk touring atau tight adventure yang tidak terlalu sering dipakai di medan offroad yang ekstrim, maka membeli motor dengan bobot yang “berat’ masih dimungkinkan. Bobot motor trail yang relatif berat itu misalnya KLX 250 dan Hyosung/monstrac 200. Motor yang berat bobotnya akan mengganggu manufer anda jika dipakai di medan offroad single track, tight wood, atau penuh tikungan tajam.

   Kalau anda gemar offroad di medan single track atau offroad extrim, maka pilihan terbaik adalah motor dengan bobot yang ringan. Motor kategori ringan ini misalnya TS 125, KTM 200, CRF 150F, dll. Motor bobot berat juga bisa saja dipakai di medan offroad yang extrim, namun tenaga anda akan lebih banyak terkuras, aplagi kalau jatuh, hemmm pasti akan susah payah untuk mendirikan motornya!

   Bagi anda yang suka speed offroad, akselerasi atau power motor yang dahsyat, maka bisa memilih motor-motor spek kompetisi atau murni enduro. Sayangnya untuk saat ini motor-motor kategori ini kebanyakan masih build up, sehingga harganya masih mencekik bagi kebanyakan konsumen. Motor kategori spek mumpuni ini antara lain KTM 200, KTM 250 EXCF, KTM 450 EXCF, husaberg FE 450, Husqvarna TE 250, CRF 250R/X, WRF 250, KXF 250, RMZ 250, YZF 250, dll. Motor tersebut dijamin dahsyat, tinggal apakah rider mampu mengendalikan motor tersebut (lihat penjelasan tentang skill di bagian bawah dari tulisan ini) atau tidak.

3. Skill

   Membeli motor trail itu hendaknya bukan karena gengsi semata. Untuk apa membeli motor bagus yang harganya ratusan juta namun justru kita tidak bisa memakainya secara optimal karena skill mengendarai kita terbatas? Untuk pemula atau yang baru gandrung dengan trail, belilah motor yang tenaganya tidak terlalu menyentak, beli yang karakternya smooth saja. Selain skill mengendarai, yang harus juga dipertimbangkan adalah berat dan tinggi badan. Di medan offroad postur badan pengendara ini menjadi sangat penting. Jika badan tidak terlalu tinggi, maka memakai motor jangkung (yang kebanyakan build up) itu akan menjadi siksaan tersendiri di medan offroad yang ketat/ekstrim.

   Namun kabar gembiranya, jika tubuh anda pendek namun ngotot ingin beli motor spek offroad yang dahsyat macam KTM atau Husaberg, maka kini sudah ada produk yang bisa nurunin ketinggian motor. Jadi kakii bisa menapak tanah dengan baik yang akan membantu anda lolos dari rintangan di medan offroad.

   Jika persoalan ketinggian badan sudah terpecahkan, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana riding skill anda? Bagaimana kemampuan anda mengendarai motor trail di medan offroad? Kalau kemampuan anda masih pas-pasan saja, maka lebih baik jangan membeli motor trail spek kompetisi/enduro murni. Kecuali anda memakainya hanya untuk “gaya-gayaan” saja, tidak dipakai di medan offroad yang extrim.

   Pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa motor trail dengan cc besar berarti semakin mantap di medan offroad, patut ditinjau ulang. Memang betul motor dengan cc besar seperti 450 cc itu pasti punya power yang lebih dahsyat dibanding yang 250 cc. Namun pertanyaannya adalah, sejauh mana anda mampu membawa motor tersebut? Dalam diskusi di forum KTM Talk, disebutkan bahwa di Amrik itu tidak banyak orang yang bisa membawa motor 450cc dengan optimal. Power motor sering berlebih, sementara skill pengendaranya masih “tidak berlebih” alias pas-pasan. Akibatnya yang terjadi bukan kita yang mengendari motor, namun motor yang mengendarai kita.

   Namun bagi anda yang merasa punya skill mumpuni, motor 450cc adalah motor yang menyenangkan dan luar biasa. Alternatif untuk mengimbangi motor sahabat anda yang pakai 450cc adalah motor 2T yang 200 atau 250cc. Motor enduro 2T seperti KTM 200/250, Husaberg TE 250 atau Husqvarna WR 250 itu relatif bisa mengimbangin motor 450cc 4T. Kelebihan motor 2T dibanding 4T adalah bobotnya yang lebih ringan.

   Jika skill mengendari motor trail (di medan offroad, bukan di jalanan raya) masih terbatas, lebih baik pakai motor-motor yang spek bukan kompetisi/offroad. Alernatif motor yang bisa dipilih antara lain KLX 150, KLX 250, TS 125, Monstrac 200, dll.

4. Ketahanan dan Kenyamanan Motor (kualitas)

   Jika motor trail anda lebih banyak digunakan untuk offroad, bukan sekedar untuk mejeng di jalanan raya, maka faktor ketahanan dan kenyamanan motor harus dipertimbangkan di urutan atas. Ada banyak motor di jalanan yang tampangnya seperti motor trail, namun begitu dipakai di medan offroad terlihat “mellow”, belum lagi kerusakan sering terjadi. Jangan sampai kita offroad di hutan, namun kita hanya repot memperbaiki kerusakan motor yang sebetulnya memang tidak layak untuk offroad. Ada guyonan, ” buka bengkel kok di tengah hutan”.

   Pilihlah motor-motor yang keluaran pabrikan ternama semacam Honda, Kawasaki, KTM, Husqvarna, Husaberg, Yamaha dan Suzuki. Paling tidak motor pabrikan ternama ini menjadi “garansi” bahwa produk yang dikeluarkan adalah produk yang berkualitas. Namun bukan berarti haram memakai motor trail keluaran pabrikan tidak ternama. Bila budget anda terbatas, bisa saja anda membeli motor tersebut, namun perlu diperhatikan lebih ekstra tentang beberapa komponen yang mungkin perlu diupgrade untuk dipakai di medan offroad.

   Jika tinggi anda tidak sampai 165 cm, lebih baik anda tidak memakai motor jangkung spek kompetisi atau enduro 250cc atau lebih. Karena postur tubuh yang tidak terlalu tinggi akan membuat anda kesulitan melintasi medan offroad yang extrim apalagi dalam kondisi jalur yang basah. Lebih baik anda memakai motor yang relative tidak terlalu tinggi seperti KLX 150, CRF 150F dan TS 125.

   Sebaliknya jika tinggi anda lebih dari 170 cm, lebih baik anda tidak memakai motor pendek (ban 16/19) seperti KLX 150. Karena posisi mengendarai jadi lebih cepat capek, karena kaki terlalu menekuk tajam. Apalagi jika bobot tubuh anda menca[ai lebih dari 80 kg, akan terlihat lucu jika naik motor kecil. Yah jadi kelihatan seperti beruang sirkus naik sepeda angin…...

   Untuk yang mempunyai tinggi tubuh 170 cm ke atas boleh bernafas lega, karena bisa lebih punya “kesempatan” untuk memakai motor-motor spek kompetisi 250 cc ke atas. Maklum motor seperti ini rata-rata memang terbilang jangkung untuk ukuran orang Indonesia.

   Memakai motor tipe cross atau di Indonesia sering disebut motor SE untuk offroad juga masih dimungkinkan dengan catatan skill anda mumpuni untuk mengendalikan kuda terbang itu. Kelemahan motor SE ini adalah suspensi lebih keras dibandingkan motor enduro dan biasanya untuk motor SE (terutama sebelum tahun 2008) itu susah untuk menghidupkannya dan masih menggunakan kick starter. Beruntung sekarang ada motor SE seperti KTM 350 SXF yang sudah dilengkapi dengan electric starter. Jadi tinggal pencet tombol, motor sudah greng dan siap diajak ‘terbang’.

  Motor tipe SE juga tidak dilengkapi dengan lampu, sehingga tidak bisa dipakai di malam hari. Namun sekarang juga ada produk-produk yang bisa membuat motor SE dilengkapi dengan lampu yang terang benderang.

   Motor trail keluaran pabrikan ternama biasanya punya kualitas yang bagus. Memang harga lebih mahal, namun dibandingkan dengan daya tahan dan kenyamanan yang ditawarkan, maka harga mahal itu menjadi relatif tidak terlalu berarti.

5. Perawatan dan Spare Parts Motor

   Jika anda adalah orang yang tidak terlalu mengerti tentang mesin motor trail, maka ada baiknya memilih motor yang rendah perawatan. Beberapa motor yang perawatannya relatif murah dan mudah itu misalnya TS 125 dan KLX 150. Motor build up yang juga perawatannya murah adalah CRF 150F, CRF 230F dan Yamaha TTR 230. Perawatannya hanya cukup dengan membersihkan filter udara dan rutin mengganti oli mesin.

   Motor spek kompetisi, SE atau enduro build up tentunya perawatannya juga lebih mahal. Apalagi untuk motor 4T yang harus selalu rutin mengecek kerenggangan klep. Belum lagi pergantian oli mesin harus rutin dan lebih sering. Seringkali oli mesin yang dipakaipun menuntut oli dengan spek tinggi yang harganya di atas Rp 100.000 per liternya. Itupun membeli olinya juga tidak terlalu mudah.

   Motor enduro yang 2T perawatanya jauh lebih murah dan mudah, dibandingkan dengan yang tipe 4T. Cukup dengan rutin membersihkan filter udara dan mengecek busi. Kelemahannya adalah motor 2T bensinnya harus dicampur dengan oli. Hal ini yang sering bikin pengendara jadi ogah mamakai motor 2T. Padahal untuk anda yang malas pergi ke bengkel untuk servis rutin, maka trail 2T adalah pilihan jitu. Apalagi untuk motor trail 2T generasi terbaru semacam Husaberg TE 250 dan KTM 200 itu sudah dirancang untuk irit penggunaan oli samping. Konsumsi BBM-nya pun terbilang irit. Satu lagi kelebihan motor trail 2T adalah bobot motornya lebih ringan.

   Di jaman serba internet, online shopping dan FB, sepertinya soal spare parts motor tidak menjadi halangan berarti untuk saat ini. Semuanya bisa dibeli atau paling tidak bisa diorder. Spare parts motor Eropa seperti KTM, Husaberg dan Husqvarna, kebanyakan harganya lebih mahal dibandingkan motor Jepang. Enaknya motor Jepang adalah beberapa spare part itu bisa memakai spare parts motor harian yang sudah beredar di jalanan Indonesia. Misalnya beberapa komponen Honda CRF 230F atau CR 85 itu sama dengan motor tiger atau supra X, sehingga harganya menjadi lebih murah.

   Membeli motor yang di Indonesia yang sudah ada dealer-nya memang akan lebih aman dan lebih murah harganya. Beberapa dealer motor trail yang sudah ada di Indonesia adalah untuk motor KTM (husaberg?), husqvarna dan kawasaki. Untuk motor lainnya masih dimasukan oleh importer umum yang biasanya harganya lebih tinggi dibanding ATPM atau distributor resmi khusus satu merk.

   Selanjutnya terserah anda, motor trail apa yang akan anda beli. Konsumen adalah raja. Jangan tergoda oleh iklan dan gengsi semata, pertimbangkan dengan matang sebelum anda memutuskan untuk membeli motor trail idaman. Jangan sampai anda menyesal di kemudian hari. Selamat mengendarai motor trail idaman anda!

(sumber: CHEELA Motoadventure).

Tehnik Dasar Offroad di Padang Pasir



                                                                                                                                                                                                      Bagi yang sudah berpengalaman, mengendari motor trail di padang pasir seperti yang ada di Gunung Bromo, adalah sesuatu yang mudah. Namun bagi sebagian orang, mengendarai moor di atas padang pasir bukanlah perkara mudah. Apalagi jika di musim kemarau, ketebalan pasir bisa sampai 60 cm, sehingga tak jarang motor terjebak di pasir. Semakin di-gas, semakin amblas ban motor ke dalam pasir.

Hal terpenting ketika kita offroad di padang pasir yang luas adalah kita harus melakukan scan alias melihat pandangan jauh kedepan untuk mengetahui jalur offroad yang benar. Ini untuk mengetahui sejak dini dimana jalur yang ada batu atau lubang, sehingga kita bisa memprediksi sejak awal. Jika kita sudah mengetahui jalur offroad yang akan kita lalui, maka kita bisa membetot motor dengan kencang, namun pandangan mata tetap jauh ke depan, minimal 25 meter kedepan.

Posisi tubuh adalah dalam posisi “attack mode”, yaitu berdiri dan tangan menekuk. Tangan yang menekuk akan berfungsi sebagai semacam peredam suspensi, sehingga jika sewaktu-waktu menghadapi medan darurat maka reaksi tangan anda akan lebih leluasa. Posisi kaki menjepit body motor, namun jangan terlalu tegang. Rileks saja, namun pastikan badan anda menyatu dengan motor. Lutut juga berfungsi sebagai “suspense”. Gunakan “body language” untuk mengendalikan motor, jadi jangan panik jika ban motor terasa oleng, terus saja berdiri dan gas motor anda, jangan mengurangi gas.

Untuk desert race atau balapan di padang pasir, biasanya suspensi disetting agak keras, karena suspensi yang terlalu lembut akan membuat motor oleng ketika dipacu dengan kencang. Kadang-kadang di padang pasir secara tak terduga kita dihadang oleh batu, gundukan pasir atau lubang pasir yang tergerus oleh air hujan. Suspensi yang disetting dengan pas dan posisi tubuh dalam mengendarai motor yang benar akan membantu anda melewati rintangan tersebut dengan mudah. 
(Sumber: DIRT RIDER Magazine dan CHEELA Motoadaventure)

Tips Offroad yang Nyaman dan Aman



Kegiatan trail adventure atau offroad yang lagi booming idealnya akan memberikan kesenangan atau kenikmatan tersendiri bagi penggiatnya. Kegiatan offroad dengan motor trail bisa dikategorikan olah raga extrim karena rawan akan resiko kecelakaan, maklum medan offroad yang dilalui sering beragam handicap-nya.

Meskipun punya skill mengendari motor yang tinggi, tetap saja ada resiko yang bisa diterima bagi offroader, karena jalur offroad di alam beda dengan jalur di sirkuit yang sudah jelas arah dan tipenya. Medan offroad di alam, meskipun sudah sering dilalui tetap membutuhkan extra kehati-hatian karena jalur bisa berubah sewaktu-waktu oleh faktor alam misalnya hujan, longsor atau pohon tumbang.

Untuk itu diperlukan persiapan matang sebelum kita melakukan kegiatan offroad motor trail. Berikut ini adalah tips-tips offroad yang nyaman dan aman yang merupakan pengalaman kami melakukan kegiatan trail adventure selama lebih dari 10 tahun.

PERSIAPAN MOTOR:

Motor menjadi alat yang sangat vital dalam kegiatan offroad. Kelayakan motor akan membuat kita menjadi bersenang-senang menikmati olahraga di alam bebas atau sebaliknya kita justru menjadi sengsara di rimba belantara. Pastikan motor anda memang layak untuk dipakai melakukan kegiatan offroad, karena ini bukan hanya sekedar menyangkut soal kenyamanan tapi juga keamanan anda. Perhatian utama adalah pada sektor suspensi dan kemampuan mesin. Jika motor anda sudah layak untuk offroad, simak tips-tips berikut ini sebelum kita berangkat offroad;

a. Cek tekanan angin ban. Jika kondisi hujan, maka tekanan angin dikurangi, ukurannya tergantung ukuran ban dan motor anda, termasuk berat tubuh pengendaranya.

b. Cek oli mesin, kalau pada level yang dibawah standar maka perlu ditambah. Pakailah oli yang berkualitas, jangan oli asal-asalan.

c. Pastikan air radiator telah terisi sesuai dengan takaranya. Kekurangan air radiator akan membuat motor over heat.

d. Cek kekencangan mur dan baut, juga rantai. Lumasi rantai dengan minyak pelumas khusus rantai.

e. Jika anda akan offroad sampai sore atau malam hari, pastikan lampu motor anda menyala. Jika motor tidak ada lampunya, misalnya tipe MX/cross, maka bisa dibekali dengan lampu senter khusus yang bisa ditempel di motor. Salah satu produk terbaru yang bisa dipakai adalah lampu keluaran Eiger.

f. Bersihkan saringan udara. Melepas saringan udara pada motor yang dipakai untuk offroad, sangatlah tidak direkomendasikan, karena ini akan memudahkan mesin/kaburator motor akan kemasukan debu atau partikel tanah, dan ini bisa membuat motor anda mogok di tengah hutan!

g. Isi bensin motor anda dengan penuh.

PERLENGKAPAN KEAMANAN PENGENDARA (SAFETY GEAR):

a. Pakailah helm tipe cross karena moncongnya akan melindungi mulut dan gigi anda dari resiko rompal jika terjatuh. Dengan helm tipe ini kita juga masih bisa bernafas dengan lega, beda dengan tipe helm full face untuk jalanan yang ada kacanya, karena tipe ini akan membuat kita sesak nafas di medan offroad.

b. Goggle atau kacamata, untuk melindungi dari debu dan lontaran lumpur atau kerikil. Goggle juga akan melindungi mata anda dari resiko tertusuk ranting-ranting pohon.

c. Sarung tangan, direkomendasikan yang full alias menutupi sampai ujung jari. Jangan memakai sarung tangan dari kulit karena ini membuat pori-pori tangan kita tidak leluasa bernafas dan juga jika hujan maka sarung tangan kulit akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menjadi kering.

d. Sepatu khusus offroad atau boleh juga yang biasa dipakai untuk cross/grasstrack. Tidak direkomendasikan memakai sepatu yang pendek, karena ini masih rawan terkena benturan batu atau akar pohon yang tidak kita duga melintang di jalur offroad. Sepatu karet yang biasa dipakai oleh petani ke sawah atau ladang, juga tidak direkomendasikan untuk offroad. Itu sepatu berbeda peruntukan, selain tingkat keamanannya dalam melindungi kaki sangat rendah, sepatu karet juga membuat kaki kita lembab, ini menajdi rawan jamur dan bau menyengat!

e. Body protector, ini untuk melindungi dada dari lontaran kerikil atau tusukan ranting pohon atau meminimalkan dampak ketika kita jatuh. Sebagian orang merasa risih atau malu memakai body protector, hemmm pemikiran ini harus dibuang jauh-jauh. Kenapa harus risih dan malu memakai piranti yang justru akan lebih melindungi tubuh anda?

f. Pelindung lutut, ini akan melindungi lutut anda ketika anda jatuh. Pengalaman kami, bagian tubuh yang paling rawan akan resiko cidera pada waktu offroad adalah kaki termasuk lutut. Pribahasa mengatakan, sepandai-pandainya tupai meloncat, akan jatuh juta. Sejago-jagonya anda membawa motor, suatu ketika anda akan jatuh juga!

g. Belt atau stagen untuk mencegah goncangan perut yang berlebih. Ingat perut adalah berisi organ-organ vital yang rawan bermasalah jika terkena goncangan atau benturan keras.

PERLENGKAPAN/PERALATAN TAMBAHAN:

a. Kunci-kunci yang mungkin diperlukan jika ada trouble ringan di motor anda, misalnya kunci busi, obeng, tang,dan kunci ukuran 8,10 dan 12.

b. Pompa kecil yang biasa dipakai oleh sepeda angin. Di toko sepeda ada banyak jual pompa ukuran kecil, hanya sepanjang 12 cm, tapi sudah cukup untuk memompa ban motor anda jika kekurangan angin.

c. Kantong plastik untuk menyimpan sampah plastik bekas pembungkus makanan anda. Plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai secara alami, jangan sampai aktivitas kita di alam justru memberikan kontribusi terhadap kerusakan alam. Jangan penah meninggalkan sampah plastic dan putung rokok anda di hutan/alam, bawa kembali sampah anda!

d. Bawa minuman dan bekal makanan secukupnya. Makanan lebih baik disiapkan dalam kotak makanan (lunch box), sehingga akan meminimalkan bungkus makanan yang terbuang percuma. Kotak makanan juga bisa dipakai berulang-ulang, jadi lebih hemat bukan?

e. HP untuk komunikasi pada situasi darurat

f. Jika akan offroad malam hari, jangan lupa untuk bawa senter

g. Bawa dompet yang berisi uang dan kartu identitas anda.

CARA PACKING PERLENGKAPAN ANDA:

a. Jika motor anda ada rack di belakang, ini adalah tempat yang tebaik untuk menyimpan perlengkapan anda sehingga akan mengurangi beban yang anda pikul. Motor trail seperti TS 125 sudah dilengkapi dengan rack, tapi untuk motor lain seperti KLX 150 atau KLX 250 juga sudah banyak yang menjual rack-nya.

b. Bawa tas punggung, pilih yang ada tali pengikat di bagian pinggang karena ini akan membuat tas akan menyatu dengan tubuh anda. Letakan barang yang berat di bagian paling bawah. Banyak juga orang suka model tas punggung yang sudah dilengkapi dengan kanyung air (camel bag), jadi kalau minum tinggal sedot saja.

c. Jika hanya offroad pendek dan anda malas membawa tas punggung yang berat, anda bisa mambawa tas pingang. Tas pinggang ini bisa diisi botol air minum ukuran kecil, dompet dan HP anda. Offroader di Eropa dan Amerika banyak yang memakai tas pinggang, termasuk di event-event kejuaraan enduro. Kelebihan tas pinggang ini adalah anda akan lebih leluasa membawa motor karena tidak ada beban di pundak.

Semoga tip-tips ini bisa bermanfaat, khususnya bagi offroader pemula. Selamat melakukan offroad yang nyaman dan aman! (sumber: CHEELA Motoadventure).

Rabu, 20 Juli 2011

Pasukan 2 Tak Kuasai Red Bull Romaniac 2011




























































    Graham Jarvis yang menunggang Husaberg TE 300 menempatkan dirinya pada posisi teratas dalam kejuaraan enduro extrim kelas dunia Red Bull Romaniac 2011. Ini adalah gelar kedua yang diaraih Graham Jarvis setelah pada tahun 2008 dia juga meraih mahkota juara di event yang sama. Posisi kedua ditempati oleh Chirs Birch yang naik KTM 300 dan posisi ketiga diraih Andreas Lettenbichler dengan kuda besinya Husqvarna WR 300.
Red Bull Romaniac disebut-sebut sebagai event enduro paling ekstrim di dunia. Hanya rider dan motor tangguh yang akan lolos dalam kejuaraan super berat ini. Red Bull Romaniac 2011 yang diadakan pada tanggal 16-20 Juli 2011 di Sibiu, Romania itu diikuti oleh 176 pengendara dari berbagai negara dan menempuh rute sejauh 600 km.
Jalur offroad yang ditempuh bukan sembarang jalur, karena penuh dengan rintangan yang membuat pengendara harus memeras keringat, kemampuan dan otaknya. Belum lagi rintangan buatan seperti kayu gelondongan dan batu yang membuat banyak pengendara terjungkal dan berdarah. Hanya pengendara yang punya skill mumpuni saja yang bisa lolos hingga babak terakhir di acara yang selalu menjadi magnet bagi penggila off road ekstrim ini.
Menariknya, dalam kejuaran enduro super ekstrim seperti Red Bull Romaniac ini kebanyakan motor yang dipakai adalah motor 2 tak. Graham Jarvis, sang juara, mengendarai Husaberg TE 300, demikian juga juara kedua Chris Birch yang memakai KTM 300 (2 tak). Jika dilihat 10 besar pengendara yang finish terdepan itu 90% pakai motor 2 tak. Coba lihat hasil lengkapnya di situs resmi Red Bull Romaniac di link berikut: http://www.redbullromaniacs.com/results/results-2011/overall-results-day-4/
Motor enduro 2 tak bukan hanya pertama kali ini saja mendominasi kejuaraan enduro ekstrim. Selain di Red Bull Romaniac, motor 2 tak banyak dipakai juga di kejuaraan off road ekstrim seperti the Last Man Standing, Erzberg Rodeo dan Hell Gate.
Husaberg TE 300 yang dipakai Graham dan KTM 300 yang dipakai Chris Birch itu dari pabrikannya dilengkapi dengan electric starter, jadi tinggal pencet tombol, motor sudah siap melaju. Sementara Husqvarna WR 300 hanya mengandalkan ‘pancalan’ kaki untuk menghidupkan motor. Meskipun tidak pakai electric starter, sebetulnya tidak menjadi masalah karena motor 2 tak itu sangat mudah dihidupkan.
Motor 2 nada itu bobot motor lebih ringan dibanding motor 4 tak. Ini menjadi salah satu pertimbangan pengendara untuk turun di kejuaran ekstrim enduro yang penuh dengan single track dan rintangan. Pengendalian yang mudah namun dengan power yang mumpuni, membuat motor 2 tak banyak dipilih untuk enduro ekstrim.
Bagaimana dengan di Indonesia? Pada tahun 90-an, motor trail di tanah air juga “dikuasai” oleh motor 2 tak yaitu Suzuki TS 125. TS 125 selama bertahun-tahun dikenal tangguh, meskipun tampangnya terkesan “jadul”. Ketika Kawasaki meluncurkan KLX 150, sempat muncul dugaan kalau nasib TS 125 akan habis “dilahap” geng hijau 4 tak dari Kawasaki. Nyatanya sampai saat ini TS 125 masih eksis, meskipun pabrikan sudah tidak memproduksinya lagi. Andai saja Suzuki mengeluarkan “new TS’ dengan model lebih modern dan kapasitas mesin lebih besar, misalnya 150cc, pasti akan laris manis di kalangan off roader.
Untuk trail build up, pada awalnya di Indonesia juga “dikuasai” barisan motor 2 tak yaitu KTM 200 EXC. Motor yang satu ini dikenal tangguh, ringan, handling enak dan perawatan mudah. Tak heran kalau populasi KTM 200 di Indonesia lumayan besar. Namun kemudian lambat laun, orang mulai melirik motor 4 tak, apalagi sempat ada isu motor 2 tak akan dilarang di Indonedia. Padahal ini sebuah isu yang tidak ada dasarnya dan ngawur.
Jika motor trail (build up) 2 tak di Indonesia semakin meredup, tidak demikian di Eropa dan USA. Motor 2 tak, terutama KTM, masih sangat banyak di pakai di berbagai kejuaraan enduro. Bahkan tim enduro KTM USA juga kini disebut-sebut semuanya akan memakai motor 2 tak. Andalan mereka adalah KTM 250 XCW dan 300 XCW. Mereka masih percaya bahwa motor 2 tak masih sangat kompetitif melawan gempuran motor 4 tak dengan cc yang lebih gede.
Perlu diingat bahwa dalam kejuaraan enduro atau motocross, itu selalu kapasitas mesin 2 tak harus lebih kecil dibanding 4 tak. Misalnya, motor 2 tak 250 cc itu akan melawan motor 4 tak 450cc. Dalam motocross, motor 2 tak 125cc akan melawan 4 tak 250cc. Kenapa kapasitas mesinnya tidak dibuat sama saja, anatara 2 tak dan 4 tak? Kenapa motor 2 tak kapasitas mesinnya harus lebih kecil dibanding yang 4 tak? Bukankah lebih adil, kalau kapasitas mesinnya sama? Silahkan disimpulkan sendiri. (C001/foto: www.redbullromaniacs.com).